Buku Keajaiban Belajar

Buku Keajaiban Belajar

Buku Keajaiban Belajar

Judul : Keajaiban Belajar
Penulis : Yun Sirno
Penerbit : Pustaka Jenius
Bahasa : Indonesia

Halaman : 178
Cetakan : Maret 2010
ISBN : 978 602 966840-7

Kategori : Belajar

 


Ingin Mengubah Pendidikan ?

M. Fahrizal Aziz, Mahasiswa UIN Malang:
“Entah mengapa, ketika membaca buku “Keajaiban Belajar” dari Yunsirno, saya seperti mendapat sebuah Ilham, ya Ilham untuk mengadakan sebuah forum diskusi. Ketika itu saya terpukau oleh penguraian-penguraian luar biasa dari buku itu. Mulai dari penggambaran sejarah kejayaan umat Islam, hingga model dan Tradisi keilmuan yang menurut saya “jarang” dibahas di forum-forum seminar Pendidikan.
Dan hal tersebut diperkuat oleh dua buah paradigma Pendidikan yang selama ini saya pelajari, yaitu paradigma Konstruktivistik dan Humanistic. Konstruktivistik berarti jika Pembelajaran di kelas itu harus bisa membangun pribadi siswa, minimal siswa mampu berkontribusi lah dalam kehidupan nyata. Sementara Humanistik menekankan jika setiap orang itu berbeda, dengan kata lain, tidak ada anak yang lebih pintar antara satu dan lainnya. Semua sama, hanya berbeda cara belajar dan pemahamannya.

Jika kita amati secara seksama, nilai-nilai seperti itu seakan sudah sirna dalam benak para Pendidik kita. Dan luar biasanya, Yunsirno kembali mengangkatnya dengan kemasan yang menurut saya lagi, sangat “luar biasa”.
Kebanyakan lembaga Pendidikan kini telah melupakan unsur-unsur nilai, mereka lebih focus pada komersialisasi Lembaga. Sehingga lebih menekan pada sebuah pencitraan lembaga, bukan pada kualitas output, tapi pada kuantitas output. Sehingga banyak kita lihat akhir-akhir ini anak sekolahan, tapi nggak jawani kalau dia anak sekolahan. Mereka sukanya tawuran, bikin video-video panas, shooping dan beberapa sikap yang tidak mencerminkan jiwa seorang yang terdidik. Dan parahnya itu berdampak pada elite pejabat kita. Banyak Pejabat yang gelar keintelektualannya tinggi, bahkan level Doktor dan Profesor, tapi mereka masih korupsi, tawuran waktu sidang dan macamnya. Itulah dampak jangka panjang dari itu semua. Intelektual bagus, namun kering akan nilai-nilai moral dan kemanusiaan.

Karena sekarang yang diharapkan dari sebuah sekolah atau kampus, itu bukan lagi Ilmu. Meskipun tidak semua demikian, tapi rata-rata mereka sekolah hanya untuk sebuah ijazah semu, dan itu diperparah dengan sistem di negara kita, bahkan Pemerintah sendiri menekankan pendidikan pada segi kognitif dan afektif, yang sebenarnya itu hanya bersifat teoritis. Sekolah mungkin mampu mencetak jutaan Intelektual yang bisa berkata “jika korupsi itu haram,” namun berapa orang yang bisa mengaplikasikan? Saya kira para koruptor itu tahu betul jika korupsi itu salah, tapi kenapa dia masih juga korupsi? Itulah hilangnya nilai-nilai pada Pendidikan. Karena hanya terfokus pada kognitif dan Afektif yang keduanya bersifat teoritis, namun kering akan nilai Psikomotorik yang sebenarnya adalah aplikasi dari teori-teori tersebut.”

Leave a Comment