Bedah Buku “Chairul Tanjung, Si Anak Singkong”

Bedah Buku “Chairul Tanjung, Si Anak Singkong”

Kenal CT? Itu kependekan namanya.

Ia lebih terkenal dengan dipanggil Bung CT merupakan salah satu tokoh muda yang sukses membangun komunitas bisnisnya, bukan berangkat dari sesuatu yang sudah besar. Ia bintang terang dalam langit bisnis putra pertiwi. Perjuangannya dalam membangun apa yang telah dicapainya sampai saat ini tidak lepas dari kepimpinan dan visi yang dimilikinya dalam ikut serta membangun negara ini. Buku ini menceritakan secara rinci perjuangannya itu.
Gambaran tentang CT disampaikan beberapa kenalannya:
Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, CT berhasil menciptakan sekian usaha baru yang bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, dan banyak orang. Di antaranya menciptakan lapangan kerja bagi lebih dari 75.000 karyawan dan mengharumkan nama Indonesia di mata Internasional ( Jakob Oetama, Pemimpin Umum Harian Kompas)

Ia dipandang bukan sekedar kaya raya, ia juga seorang idealis yangg menebar manfaat. Sebagaimana ?
Chairul memiliki idealisme bahwa perusahaan lokal pun bisa menjadi perusahaan yang bisa bersinergi dengan perusahaan-perusahaan multinasional. Ia tidak menutup diri untuk bekerja sama dengan perusahaan multinasional dari luar negeri. Baginya, ini bukan upaya menjual negara. Akan tetapi, ini merupakan upaya perusahaan nasional Indonesia bisa berdiri sendiri, dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Hal ini patut diapresiasi agar Indonesia dapat bersaing di kancah dunia.
Resapi secara mendalam buku ini, dan Anda akan memahami prinsipnya dalam menjalankan usahanya ( Soekarwo, Gubernur Jawa Timur)

CT, salah satu pengusaha pribumi terkaya negeri ini pernah menjabat sebagai Ketua Ekonomi Nasional dan kemudian ditunjuk menjadi Menteri Koordinator bidang Perekonomian. Ia menggantikan Hatta Rajasa pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

CT merupakan salah satu pengusaha yang merintis karier dari nol. Benih-benih bisnis mulai tumbuh dalam diri pria ini sebenarnya agak telat, yaitu sejak duduk di bangku kuliah.

Selepas SMA, CT melanjutkan pendidikan di salah satu kampus bergengsi di Jurusan Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Semasa kuliah, CT mulai berbisnis kecil-kecilan, salah satunya dengan hanya menjadi ‘makelar’ fotokopi.

Beberapa sumber menyebut kala itu CT menawarkan jasa fotokopi untuk rekan-rekan kuliahnya ketimbang harus membeli buku yang seringkali mahal utk kocek mahasiswa. Kebetulan, salah satu pemilik tempat fotokopi adalah orang yang ia kenal.

Setelah banting tulang merintis bisnis yang cukup sederhana, yaitu fotokopi tadi ternyata CT ketagihan. Ia makin senang berbisnis. Bahkan selepas lulus kuliah, alih-alih menjadi dokter gigi, CT malah mendirikan sebuah PT. Perusahaannya itu dinamai PT Pariarti Shindutama bersama tiga rekannya sekitar tahun 1987. Kala itu modal awal mereka tak main-main: sekitar Rp 150 juta. Mereka dengan nekat mengambil pinjaman.

Perusahaan apa yang mereka dirikan?

Perusahaan tersebut ternyata perusahaan manufaktur. Mereka tertarik memproduksi sepatu. Tak tanggung-tanggung mereka sudah menguncar untuk pasar ekspor.

Tapi story tak selalu mulus. Setelah berjalan beberapa lama karena mereka merasa beda visi, CT memutuskan untuk berpisah. Dan ia kemudian mendirikan perusahaan sendiri.

Pilihannya mungkin tak salah. Karena serius lambat laun singkat cerita bisnis CT tak hanya semakin berkembang tapi juga sudah mulai merambah kemana-mana.

Oh iya lupa, ada juga yang perlu diceritakan disini sebelum dia lulus kuliah.

CT walau menyibukan diri merintis bisnis, tidak membuatnya lalai pada tugas utamanya yaitu kuliah. CT tak tanggung-tanggung mampu menjadi mahasiswa teladan! Saat itu, CT tak hanya jago kandang beliau juga pernah mendapatkan penghargaan sebagai mahasiswa teladan tingkat nasional. Penghargaan yang beliau dapat ini merupakan penghargaan sebagai anggota civitas akademika yang berjasa kepada fakultas dan universitas. Ia membuktikan, kalau kita bisa berbisnis tanpa harus mengabaikan kegiatan perkuliahan.

Kita kembali bagaimana ia merintis bisnisnya.
CT sebagaimana banyak pebisnis lainnya juga pernah beberapa kali jatuh bangun dalam merintis usaha. Pernah ia mencoba merintis usaha penjualan alat-alat kedokteran, disitu CT mengalami kebangkrutan karena lebih banyak yang datang hanya untuk sekedar nongkrong daripada membeli. Tapi kegagalannya tersebut tidak membuatnya jera.

Ia pun mencoba peruntungan dengan berbisnis lain. Ia kemudian terjun di bidang kontraktor. Dalam waktu yang relatif singkat CT mendapat order yang diminta membangun pabrik sumpit. Terbayang kesuksesan di depan mata.

Namun sayang, ada saja pintu masalah. Ternyata di tengah jalan si pengordernya malah mengalami kesulitan keuangan yang membuat proyek ini terhenti. Padahal demi proyek ini, CT rela menjual kendaraannya. Kegagalannya kali ini membuatnya harus rela naik-turun bus sebagaimana orang Jakarta umumnya.

Kasian ya?

Keberuntungan sepertinya masih berpihak pada CT. Tidak lama berselang, Chairul bertemu dengan salah seorang warga Singapura yg tertarik dgn pelayanan sempurna yang diberikan CT. Lalu ia mendapatkan order darinya tuk membangun pabrik sepatu. Namun, CT mengalami kondisi ekonomi yang cukup memprihatinkan saat itu. Ia sama sekali tidak memiliki uang untuk modal dalam menjalani proyek pembangunan tersebut.

Setelah mendengar penjelasan dari CT akhirnya parternya inu mengerti. Namun, dengan usaha yang cukup keras akhirnya si partner berhasil membujuk CT tuk membangun pabrik sepatu tersebut dengan menggandeng seorang temannya yg lain . Di proyek kali ini CT tidak mengeluarkan uang sama sekali, karena CT memberikan bangunan pabrik sumpit yg macet alias mangkrak sebagai modal usaha. Bangunan didapatkan CT dari pengorder pabrik sumpit yang tidak sanggup membayar semua biaya bangunan yg telah setengah jalan itu.

Keberuntungan sepertinya masih berpihak pada CT. Tidak lama berselang, Chairul bertemu dengan salah seorang warga Singapura yang tertarik dengan pelayanan sempurna yang diberikan CT. Lalu ia mendapatkan order darinya tuk membangun pabrik sepatu. Namun, CT mengalami kondisi ekonomi yang cukup memprihatinkan saat itu. Ia sama sekali tidak memiliki uang untuk modal dalam menjalani proyek pembangunan tersebut.

Setelah mendengar penjelasan dari CT akhirnya parternya inu mengerti. Namun, dengan usaha yang cukup keras akhirnya si partner berhasil membujuk CT tuk membangun pabrik sepatu tersebut dgn menggandeng seorang temannya yg lain . Di proyek kali ini CT tidak mengeluarkan uang sama sekali, karena CT memberikan bangunan pabrik sumpit yg macet alias mangkrak sebagai modal usaha. Bangunan didapatkan CT dari pengorder pabrik sumpit yang tidak sanggup membayar semua biaya bangunan yg telah setengah jalan itu.

Pembangunan pabrik sepatu yg telah terbangun itu menghabiskan seluruh modal yang dimiliki CT dan teman-temannya. Masih ada keperluan lain yg harus segera dipenuhi oleh CT dkk untuk dapat menjalankan usaha ini. Kemudian seorang partner mengenalkan CT dengan penyandang dana. Inilah pertama kalinya CT meminjam uang dengan nominal yg terbilang besar yaitu mencapai 1,5 milyar — pada saat itu CT baru berumur 25 tahun. Langkah yg terlalu berani tuk anak muda seusia dia saat itu.

Mereka pun menggunakan uang tersebut untuk membeli peralatan kerja dan segala perlengkapan lain yang dibutuhkan untuk membuat sepatu. Namun setelah sample sepatu dikirim, tak ada satupun order yg mereka dapatkan. Untuk pertama kalinya CT mengalami krisis percaya diri karena mengetahui bahwa mereka telah kehabisan uang.

Lihat seorang CT pun pernah down di awal karirnya, bukan?

Tapi, didukung semangat juang dan kerja kerasnya, keberuntungan seakan memang tak mau jauh-jauh dari CT. Seorang teman lama dari Singapura tadi datang dan membantu mereka dalam mencari order. Dari bantuan itu, CT dan teman-temannya dibanjiri orderan sepatu yang siap untuk mereka kirim dan dipasarkan ke Eropa.

Usaha ini mengalami kemajuan pesat hingga usianya mencapai angka 32 tahun. Dan ia pun kemudian menikahi seorang wanita berparas ayu bernama Anita. Kemudian mereka dikaruniai 2 orang anak.

Sekarang kita coba ambil beberapa hikmah dari perjalanan hidup yg ditulis CT ini.
Oh ya asyiknya buku ini adalah, CT menceritakan awal perjalanannya dari beliau masih kecil hingga usianya yang kelima puluh. Seperti membaca sebuah novel. Pembaca lainnya, Arry Rahmawan menarik beberapa pelajaran tuk kita:

1. Berbakti Kepada Orang Tua
Cerita diawali dari kisah saat CT diterima kuliah di Universitas Indonesia. Tahukah ternyata biaya pendaftaran yg beliau gunakan berasal dari hasil penjualan kain halus satu-satunya milik ibu yg sangat disayanginya?

CT sangat menghormati orang tua dan berbakti dengan menunjukkan prestasi saat beliau kuliah dan yang paling penting adalah memutuskan untuk tidak bergantung kepada orang tua dalam biaya kuliah dan biaya hidup. Lalu kenapa ia menerima pengorbanan Ibunya? Ini semata-mata untuk menghormati orang tua beliau dan tidak tega jika memberatkan kedua orang tua.

Kisah-kisah manapun akan selalu menceritakan hal yang sama, barang siapa yang memuliakan kedua orang tuanya maka dia akan mendapatkan kehidupan yang mulia pula. Maka mulailah untuk mencoba, walaupun sedikit untuk melakukan hal-hal yang membahagiakan dan menyenangkan bagi orang tua. Bolehlah saat ini sukses dan kaya raya, tetapi jika itu membuat kita merendahkan orang tua, kekayaan itu bisa tidak berkah, dan akan bisa habis dalam sekejap.

2. Kreatif dan Inisiatif
Ada sebuah kisah menarik saat CT menjadi ‘agen fotokopi’ diktat, di mana beliau berani membantu menfotokopi diktat dgn harga yg lebih murah, namun masih menguntungkan yg akhirnya beliau dikenal sebagai salah satu mahasiswa terkaya pada zamannya hy karena mjd agen fotokopi (saat ia masih kuliah). Sebenarnya di sinilah letak yg paling utama dalam bisnis. Kreatif dan inisiatif. Di saat misalkan yg lain hanya mengikuti yg lainnya, seorang yg kreatif mampu melihat peluang-peluang tak terlihat di dalamnya.

Jadi berbisnis bukan hanya masalah bakat, tetapi kreativitas. Tentu saja kreativitas bisa dilatih.  Cobalah untuk melakukan dan melihat sesuatu secara berbeda, di sana kreativitas bisa tumbuh. Kreatif saja tdk cukup, tetapi juga harus berinisiatif secepat mungkin tuk memulainya. Mungkin kita punya puluhan gagasan kreativitas tapi kita tidak kunjung memulainya.

Sekali lagi, bukan hanya bakat, tetapi kreativitas dan inisiatif. Kreatif pasti bisa dilatih, sementara inisiatif terletak pd kemauan dan keberanian. Satu hal lagi, ke2 hal tersebut harus menghasilkan profit besar dgn cara yg baik dan benar, agar bisnis bisa sustain. Kalo nggak bisa bangkrut.

Share This

1 Comment

  1. Sekolah Kapal Pesiar Yogyakarta

    ini buku kisahnya bagus dan keren..

    1 YEAR AGO | Reply

Leave a Comment